A Grateful Project

Berawal dari sebuah percakapan dengan seorang kawan lama yang sudah saya anggap seperti kakak saya sendiri, saya berpikir untuk membuat sebuah “self-project”. Jujur saya terinspirasi dengan ceritanya dan tertarik dengan apa yang pernah dia lakukan semasa kuliahnya dulu. Menurut saya, self-project yang pernah dilakukannya dulu sangat bagus untuk dijadikan sebuah kebiasaan sekaligus menjadi reminder untuk diri kita sendiri setiap harinya.

Supaya kelihatan lebih asik, saya menamakan self-project ini dengan nama “A Grateful Project”. Yap.

Jadi, gimana sih sebenarnya project ini?

Simple. Jadi, setiap hari nya saya akan menuliskan hal-hal apa saja yang membuat saya bahagia di hari tersebut. At least kalau memang tidak sempat menuliskannya di ujung hari, kita bisa mereview hal-hal tersebut sebelum tidur. Meluangkan waktu 5 menit untuk mengingat-ingat hal-hal apa yang membuat kita bahagia hari ini.

Menurut saya hal tersebut dapat membangkitkan energi positif yang ada di diri kita. Ya, because we all know that sometimes life is s*cks. Rite? Jadi, dengan menjalani self-project ini saya berharap hal tersebut dapat mengingatkan saya bahwa meskipun hari ini buruk, ini tidak menandakan hidup yang buruk. Bahkan masih banyak kebahagiaan yang bisa disyukuri di dalamnya.

quotes
Sumber: Google

Bangun tidur, kita dapat membuka mata, sehat, mendapatkan sapaan dari orang terkasih, lalu sarapan enak, sampai di kantor dengan selamat tanpa halangan apapun, meeting dan pekerjaan lancar, serta dikelilingi dengan orang-orang yang baik adalah hal-hal yang bisa membuat kita bahagia dan bersyukur setiap hari nya. Bahkan masih banyak kebahagiaan lain yang belum tentu dirasakan oleh orang lain namun kita merasakannya.

Sekecil apapun perubahan baik yang ada di dalam diri kita, namun apabila kita menjadikannya suatu kebiasaan pasti akan membuat kita menjadi lebih baik lagi. Hal itu yang menjadi semangat saya dalam melakukan self-project ini.

Tidak ada batasan khusus dalam saya melakukan self-project ini. Self-project ini mungkin juga bisa disebut happy-project atau fun-project atau apapun itulah wkwkwk

Yang lebih penting mungkin hal tersebut bisa membantu saya untuk tetap mengakhiri hari dengan sebuah senyuman dan ucapan syukur atas semua hal yang telah terjadi hari itu.

Semacam tantangan untuk diri sendiri dalam melakukan self-project ini, harap maklum kadang saya anaknya suka lupa-lupa gitu a.k.a pura-pura lupa a.k.a males yaudah lah hahahaha

Jadi ya semoga saja ini bisa menjadi sebuah kebiasaan baik baru ya buat saya.

Anw, saya sudah melakukan A Grateful Project ini sejak hari Senin kemarin. Saya akui mungkin minggu ini masih belum konsisten dalam melakukannya, tapi mari kita coba untuk lebih baik lagi di minggu-minggu berikutnya. Semoga dapat membawa dampak positif ya.

Adakah yang mungkin tertarik juga melakukannya? Sharing yuk!

 

Surabaya, 15 Juli 2018

With love,

 

SD

Advertisements

The Four Agreements for Your Life

Well, jadi untuk tulisan kali ini saya terinspirasi dari sebuah thread K*skus yang menurut saya topiknya sangat menarik. Thread nya sendiri juga sudah cukup lama, but I think it’s not a crime to tell you about this even it’s too late. Oh, wait.. It’s better late than never. Rite? *tsaahh

Untuk saya pribadi, tulisan tersebut merupakan salah satu healing treatment yang baik. Selain itu, bisa juga dijadikan sebagai kajian untuk introspeksi diri sendiri. So, here is it. Saya ringkaskan poin-poin dari thread warbiasya itu.

Thread itu sendiri sebenarnya membahas tentang sebuah buku karya Don Miguel Ruiz yang berjudul “The Four Agreements”. Tujuan dari penulisan buku tersebut sebenarnya adalah sebuah upaya untuk mendapatkan kebebasan maupun kedamaian  yang sebenarnya dalam diri kita sendiri.

Terdapat empat poin penting yang menjadi inti dari buku tersebut, yaitu sebagai berikut:

a. Be Impeccable with Your Words

Speak with integrity. Say only what you mean. Avoid using the word to speak against yourself or to gossip about others. Use the power of your word in the direction of truth and love.

Yap, jadi memang benar pepatah yang mengatakan kalau lidahmu itu lebih tajam dari pedang. Dalam berbicara kita memang harus berhati-hati karena perkataan kita bukan hanya bisa menyakiti orang lain melainkan juga diri sendiri. Sebisa mungkin jangan membuat kata yang keluar dari mulut kita menjadi “sia-sia”.

b. Don’t Take Anything Personally

Nothing others do is because of you. What other say and do is a projection of their own reality, they own dream. When you are immune to opinions and action of other, you won’t be the victim of needless suffering.

What’s other say is not define who you are but who they are. Kalau kalimat itu dijadikan topik skripsi, mungkin poin nomor 2 ini bisa dijadikan landasan teori.  Terkadang kita masih egois terhadap diri sendiri karena terkadang kita masih berpikir bahwa apa yang orang lain katakan itu selalu relate dengan diri kita, padahal belum tentu.

c. Don’t Make Assumptions

Find the courage to ask question and express what you really want, communicate with other as clearly as you can do to avoid misunderstanding, sadness, and drama. With just one agreement, you can completely transform your life.

Inti yang paling jelas dari poin ini adalah jangan membuat asumsi, karena asumsi itu bisa jadi racun yang paling berbahaya untuk diri kita. Asumsi yang kita buat mungkin saja bisa menenggelamkan diri kita sendiri dalam ketidakpastian dan mungkin saja bisa membawa negative vibes dalam keseharian kita.

d. Always Do Your Best

Your best is going to change from moment to moment, it will be different when you are healthy as opposed to sick. Under any circumstance, simply do your best, and you will avoid self-judgment, self-abuse, and regret.

Selalu berikan yang terbaik dalam setiap situasi yang sedang kamu alami saat ini. Memberikan yang terbaik juga berarti terlalu memaksakan diri. Menikmati dan mencintai apa yang kita lakukan tentunya juga bisa membuat kita akan selalu memberikan yang terbaik.

Menurut saya, keempat poin tersebut memang berhubungan satu sama lain. Keempat hal tersebut seolah mendukung satu sama lain agar bisa mendapatkan kualitas diri yang maksimal. Pada saat membaca thread ini untuk pertama kalinya, ketika membaca poin ke dua dan ke tiga seolah saya mendapatkan pencerahan yang selama ini saya cari huhuhuhu *terharu*

Karena kalau orang jawa bilang, saya ini anaknya cilik aten. Kadang apa-apa dikit suka dimasukkin hati a.k.a baperan. Terus saya juga suka tenggelam dengan asumsi-asumsi yang saya percayai itu benar padahal belum tentu demikian. Nah, berbekal membaca thread tersebut saya jadi introspeksi diri dan berusaha untuk mengurangi hal-hal tersebut serta berusaha hidup lebih positif. Yeay~~

Jujur saja menerapkan the four agreements tersebut memang tidak mudah. Dalam melakukannya harus bertahap dan juga konsisten dibarengi dengan niat dan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih positif serta menginspirasi orang lain.

Ketika saya sedang “melemah” saya biasanya akan membaca ulang thread tersebut atau membaca buku(e-book)nya Om Don Miguel Ruiz. Macam jadi reminder gitu lah ya buat diri sendiri.

Saya rasa thread dan buku sebagus ini harus diketahui oleh banyak orang dengan harapan kedepannya kita bisa membaik bersama dan menemukan versi terbaik dari diri kita.

Nah, jadi untuk teman-teman yang mungkin mau berkunjung langsung ke thread nya bisa klik di sini ya. Kalau yang berminat e-book nya saya juga bersedia berbagi, bisa langsung hubungi saya 😉

Because sharing is caring. Caring is loving.

Mungkin ini dulu yang bisa saya bagi, semoga bermanfaat!

Spread love and positive vibes!

Surabaya, 5 Juli 2018

With love,

 

SD

Nol detak jantungnya: Tidak ada lagi harapan

Aku menikamnya, hingga nol detak jantungnya

Tak kurasakan lagi detaknya

Detaknya yang pernah meledak-ledak

 

Aku menikamnya, hingga tidak ada lagi harapan bersemayam di raganya

Harapannya ikut hilang

Bersama detaknya

 

Kini yang aku lihat hanyalah garis horizontal yang terus mengular lurus

Yang aku dengar hanyalah suara yang memekakan telinga

Sudah tidak ada lagi detak, sudah tidak ada lagi harapan

 

Yang berdetak kini menjadi pernah berdetak

Yang pernah hidup kini disebut mati

Dialog

Ada satu dialog yang sering terjadi

Dialog antara aku dengan alam

Dialog antara aku dan langit malam

 

Hamparan hijaunya semesta seakan menyapa dari ketinggian

Bijaknya deburan ombak seakan menyalurkan damainya,

merasuki relung hati paling dalam

Sementara cahaya bintang malam memberikan ketenangan pada perasaan yang takut ditinggalkan

 

Ada dialog yang terjadi dengan mereka

Ada dialog yang terjadi di antara kami

Dialog tentang alasan mereka diciptakan,

Dialog tentang alasan mengapa kita diciptakan

 

Berdialog dengan mereka,

berdialog dengan penciptaNya

 

Ada satu kesatuan trinitas yang tidak bisa dipisahkan

antara manusia, alam, dan Tuhan

 

Ada alasan mengapa kita diciptakan

Karena pasti ada pelajaran dibalik hijaunya semesta,

bijaknya deburan ombak,

cahaya bintang malam,

dan manusia yang hidup berdampinngan di dalamnya

The Power of Love

Sebuah pelajaran memang bisa didapatkan dari mana saja, bahkan pada hal-hal kecil sekalipun. Hal tersebut bisa membuat mata kita lebih terbuka lebar dan meluaskan hati serta pikiran kita…

 

Ya, pernyataan tersebut sudah saya yakini dari jauh-jauh hari yang lalu dan sampai saat ini saya selalu mendapatkan bukti nyatanya. Hidup sebagai seorang “dewasa” memang tidak mudah, apalagi ketika kita baru memasuki awal usia 20 tahun-an. Banyak hal akan terasa lebih kompleks untuk dijalani, banyak keputusan dan pilihan yang harus diambil dengan mempertimbangkan berbagai hal dan resiko jangka panjangnya, banyak hal sederhana yang akan menjadi umm… sedikit lebih rumit.

Dalam situasi ini kita bisa kehilangan tingkat kestabilitasan diri kita, akan ada masa di mana kita harus memerangi energi-energi negatif yang akan sangat mudah timbul dari berbagai faktor. Di sini kita kembali diuji untuk tetap bertahan dan bahkan menyerang.

Kenapa bertahan dan menyerang?

Ya, dalam kondisi ini kita harus bertahan agar energi negatif tersebut tidak menguasai diri kita, lalu kita harus menyerang agar kita tidak dikalahkan olehnya. Biasanya, sudut pandang kita hanya akan mengarah pada hal-hal yang negatif, dan tentunya hal ini lah yang menjadi “gravitasi” terbesar untuk kita jatuh.

Memang benar adanya, satu-satunya yang dapat menyelamatkan diri kita adalah diri kita sendiri. Sumber energi positif terbesar sebenarnya ada di dalam diri kita sendiri, tentang bagaimana kita memandang setiap permasalahan yang ada, bagaimana kita menyikapinya, dan bagaimana kita menerimanya.

Ketika kita bisa mengubah arah pandang kita menjadi satu derajat lebih positif saja, maka hal tersebut dapat membawa perubahan hingga hampir seratus delapan puluh derajat. Permasalahan memang akan selalu datang dalam kehidupan kita, namun ketika kita memandang hal tersebut sebagai sebuah proses untuk kita menjadi seseorang yang lebih baik, maka kita pun dapat melawan “gravitasi” yang membuat kita jatuh. Karena kita sadar, kita sedang bertumbuh.

Permasalahan yang timbul pun bisa berbeda untuk setiap orang dan setiap orang pun memiliki cara yang berbeda untuk mengatasi dan menyelesaikannya.

Menghadapi berbagai masalah internal maupun eksternal saya saat ini, membuat saya merasa kehilangan diri saya sendiri. Saya merasa bahwa saya telah menjadi orang lain, saya merasa bahwa energi negatif di sekitar saya semakin membesar, dan saya sadari hal tersebut bisa berdampak buruk terhadap kesehatan psikis saya. Selama ini saya merasa sudah memerangi diri sendiri saya sendiri, mencoba bertahan dalam situasi yang paling tidak saya ingini, terjebak dalam lingkaran yang saya tidak tahu di mana jalan keluarnya. Sampai akhirnya saya sadari bahwa saya hanya terjebak dalam sempitnya pikiran saya dan dangkalnya hati saya.

Selama ini saya hanya sibuk bertahan dan berperang, namun saya lupa untuk bersyukur. Saya lupa bersyukur bahwa ternyata banyak orang-orang yang mencintai saya dan selalu ada di sekitar saya untuk mendukung saya. Saya lupa bahwa cinta dan kasih sayang yang mereka berikan sebenarnya merupakan asupan bahan bakar energi positif untuk diri saya. Saya terlalu sibuk memperhatikan apa yang jauh, tanpa lebih merasakan apa yang dekat. Saya terlalu fokus pada permasalahan saya, dibandingkan berkat yang telah diberikan Tuhan kepada saya. BerkatNya melalui orang-orang yang mencintai dan mengasihi saya yang mungkin terkadang secara tidak langsung pernah saya sakiti dengan perilaku saya yang dikuasai energi negatif.

Energi negatif ini sebenarnya memiliki dampak fatal karena dapat “membunuh” diri kita sendiri dan membuat kita merasa insecure. Ketika kita sudah berada di tahap ini, ada baiknya untuk “take time” atau mengambil jeda sejenak. Setiap orang dapat mendefinisikan hal tersebut dengan berbeda, namun cobalah untuk memutar sudut pandang. Memikirkan segala sesuatu yang sudah dilalui saat ini dan mencari ketidak tepatan sikap kita dalam menghadapinya selama ini. Tidak salah juga untuk mencoba bercerita kepada orang lain, karena mungkin saja, dari sana kalian sadar bahwa ternyata kalian tidak sendiri dan banyak orang-orang yang menyanyangi kalian. Dari sanalah energi positif tersebut muncul untuk selanjutnya kita bakar menjadi lebih besar.

Apabila kamu merasa berada di sebuah lingkungan yang menurutmu hal tersebut adalah negatif, maka cobalah untuk menjadi pembawa energi positif di sana. Jadilah seorang pembawa semangat dan kehangatan yang menyebarkan energi positifnya ke lingkungan sekitarmu tanpa menyalahkan keadaan di sekitarmu. Dan satu lagi, kamu tidak akan pernah kehilangan dirimu sendiri, namun kamu akan mendapatkan dirimu menjadi lebih baik.

Menerima, memahami, dan mensyukuri semua nya.

Karena cinta yang telah Dia kirimkan, menyelamatkan saya…

Tulisan ini pun dibuat berdasarkan asupan energi positif dari mereka yang telah menyanyangi dan mencintai saya. Terimakasih telah membuat saya sadar tentang betapa berharganya diri saya, terimakasih telah menjadi pengingat saya untuk senantiasa bersyukur, terimakasih telah menjadi penunjuk jalan saya untuk “pulang”. Dan terimakasih Tuhan, karena Engkau telah mengirimkan mereka ke dalam hidup saya.

Always stay young and positive!

 

Surabaya, 4 Mei 2018.

 

with love,

 

SD

 

 

Sebuah Hadiah Ulang Tahun

Selamat Ulang Tahun,

Itulah yang ingin aku sampaikan

Aku ingin menjadi yang pertama, aku pun ingin menjadi yang terakhir

Kelak jika Tuhan menginjinkan

 

Selamat Ulang Tahun,

Usiamu sudah tidak lagi muda, namun aku harap jiwa muda mu tidak akan pernah menua

 

Selamat Ulang Tahun,

Beribu semoga aku semogakan,

Berharap selalu yang terbaik untuk dirimu

 

Selamat Ulang Tahun,

Bukan sebuah hadiah istimewa yang aku bisa berikan

Bukan, melainkan sebuah doa yang tulus yang dipanjatkan ke Yang Maha Kudus

 

Selamat Ulang Tahun,

Untuk kamu yang telah memberikan bahagia

Semoga bahagia akan selalu menyertai

Semoga cinta bisa menjadi hadiah yang bisa selalu diberikan setiap waktu,

tanpa harus menunggu berulangnya tahun

 

Selamat ulang tahun, sayang.

 

Surabaya, 20 April 2018

With love,

 

Shintya

Another day, Another Life in Another City

Malam ini saya memutuskan untuk singgah di sebuah café seorang diri, memilih secangkir kopi dan juga cemilan malam untuk menemani saya. Saya memang suka menghabiskan waktu sendiri ketika sedang berada di titik terjenuh saya. Seperti saat ini.

Memberikan reward untuk diri sendiri memang rutin saya lakukan setiap bulannya. Hal ini untuk memberikan penghargaan untuk diri saya atas apa yang sudah berhasil saya lewati selama sebulan ini.

Dan beginilah jadinya, sambil menikmati waktu sendiri saya, saya pun memberikan reward untuk diri saya. Jadilah daripada saya duduk sendiri nggak jelas, akhirnya saya mencoba menuangkan apa yang sedang saya rasakan.

Akhir-akhir ini kepala saya dipenuhi berbagai pikiran yang cukup mengganggu. Pikiran tentang banyak hal dan terus terang saja hal ini cukup membuat saya gusar. Gusar hingga pada titik saya yang merasa bersalah karena membuat saya terkesan kurang bersyukur.

Menjadi dewasa ternyata tidak seenak yang saya impikan ketika masih di usia sekolah dulu. Banyak sekali hal-hal yang harus dipertimbangkan. Saya harus bisa menentukan mana yang menjadi kebutuhan prioritas, mana yang bisa ditunda. Saya diberikan pilihan untuk hidup konsumtif dan mengikuti gaya hidup “kelas atas” atau tetap bergaya sesuai isi dompet. Ya, pada akhirnya saya mengerti maksudnya.

Kehidupan orang dewasa ternyata tidak selalu mengasyikan. Kehidupan ini membuat saya harus mengorbankan banyak hal. Waktu hingga diri sendiri. Kehidupan yang kejam dan keras. Seperti badai yang harus diterjang, pasti akan ada hari cerah setelahnya.

Mungkin ini hanyalah sebuah tahapan, fase dan proses yang harus dilalui.

Masih teringat dengan jelas di kepala saya ketika memilih bukan menjadi beban besar untuk saya karena masih ada mama yang akan selalu membantu, atau bahkan mungkin saya yang meminta mama untuk memilih. Namun sekarang, semuanya sudah benar-benar ada di tangan saya. Apa yang saya hadapi, apa yang saya rasakan semuanya adalah pilihan saya. Mama saya sekarang hanya menjadi penasehat untuk saya, hmm tentunya tidak sekedar penasehat untuk saya, namun tempat saya pulang ketika saya sudah benar-benar lelah menghadapi semuanya.

Seperti saat ini.

Orang bilang, katanya tidak baik membuat orang tua kita khawatir. Tidak bermaksud membuat beliau khawatir, namun perkataan beliau selalu menenangkan dan menguatkan saya. Beliau selalu menyemangati saya, yakin bahwa saya bisa melalui ini, yakin bahwa akan ada hari yang cerah setelah badai.

Dalam keadaan terpuruk dan penuh tekanan seperti saat ini, sebenarnya masih banyak hal yang bisa saya syukuri. Sesungguhnya terlalu banyak hingga hal tersebut membuat saya merasa malu untuk mengeluh.

Kembali lagi saya berpikir, mungkin ini memang fase yang harus saya lalui. Ini adalah proses yang harus saya nikmati, hmm, harus saya syukuri.

Kembali lagi saya berpikir bahwa Tuhan sedang mempersiapkan saya untuk suatu hal yang lebih besar nantinya. Tak henti-hentinya saya menyemangati diri sendiri, selalu mencoba berpikir positif meskipun jujur saja, saat ini saya merasa lelah.

Entah sampai keadaan ini akan berlangsung, namun saat ini saya hanya perlu untuk menikmati dan mensyukuri apa yang sudah disajikan. Saya yakin ini tidak akan selamanya. Saya hanya perlu sedikit bersabar meskipun hal itu sedikit menyakitkan.

Saat ini, di kota Surabaya. Tidak pernah sebelumnya saya terpikir untuk berada dan menjalani hidup di kota ini sebelumnya. Selanjutnya, saya tidak tahu kemana Tuhan akan menempatkan saya. Sembari berjuang dalam fase ini, saya berdoa agar diberikan yang terbaik kedepannya. Semoga apa yang saya citakan juga menjadi yang terbaik versiNya.

Doakan saya, ya!

Surabaya, 3 bulan menuju angka 23 saya

Regards,